Link Banner
News Update :

Find Us On Facebook

Link Banner
Link Banner
Home » , » Memahami "Full day school" dalam bingkai lembaga pendidikan Islam Terpadu

Memahami "Full day school" dalam bingkai lembaga pendidikan Islam Terpadu

18.51

Oleh : Hafiz Muhazir
Direktur Lembaga Pendidikan Islam Terpadu Gameel Akhlaq



full day school sejatinya bukan istilah baru dalam dunia pendidikan, sekolah islam terpadu sudah jauh menerakapkanya diawal tahun 2000an, kini mendikbud melemparkan wacana full day school ke publik sebagai "terapi" mengatasi kenakalan remaja dan prilaku asusila selepas pulang sekolah
banyak pengamat dan praktisi yang berpolemik mereka yg mendukung beranggapan model ini (full day school_red) memudahkan orang tua urban ( ayah dan ibu bekerja ) dalam mendidik, sehingga keluarga urban tdk memerlukan lagi asisten rumah tangga, lebih jauh orang tua lebih nyaman dalam bekerja. sementara mereka yg menolak menganggap beban anak dalam belajar makin meningkat dan menyebabkan kesulitan dalam hal tugas perkembagan anak dalam interaksi sosial
kedua argumen tersebut dapat diterima dan juga ditolak jika kita menilik bagaimana Sekolah berkonsep Islam Terpadu menerapkan "full day school". publik dapat melakukan komparasi dan menjadikan Sekolah Islam Terpadu (SIT) sbg role model (sekolah islam terpadu yg resmi dibawah naungan Jaringan Sekolah Islam Terpadu). Setidaknya Ada 4 pilar Sekolah Islam Terpadu dalam menerepkan full day school dalam kegiatan pembelajaran.

1.Guru Kredibel dan Teladan
kita semua sepakat bahwa guru adalah ujung tombak pendidikan formal, meski peran guru kini dikoreksi menjadi mediator dan motivator, tapi tidak sedikitpun mengurangi peran guru sebagai Figur dan Inspirator bagi siswanya. Sehingga Guru berperan ganda sebagai insipirator sekaligus mentor, sehingga kapanpun, dimanapun dan bagaiamanapun kondisinya siswa dapat "curhat" dan berlama-lama dengan gurunya tanpa rasa bosan. Kehadiranya begitu dinantikan dan ketiadaanya begitu dirindukan. Anak segan kepada bapak/ibu gurunya bukan ditakuti, karena mereka merasa disekolah ada figur pengganti orang tua atau kakak mereka

2. Pendidikan Adab dan Karakter
Dalam lembaga pendidikan Islam terpadu semua warga sekolah dari guru sampai siswa berkomitmen menjaga adab dan membangun karkater menjadi keseharian, mulai adab berbicara, makan, berpakaian, lebih jauh adab beribadah. ada istilah adab sebelum ilmu itulah yg diterapkan sehingga ketika ilmu itu sampai seorang alim (yang berilmu/ilmuwan) dapat menggunakan ilmu dgn beradab. Tidak aneh apabila komitmen ini menjadikan sekolah laksana pesantren dalam skala kecil. Bahkan anak kelas 1 SDIT disekolah kami beban pembelajaran adab dan karakter lebih besar bobotnya ketimbang akademik. salah satu pendidikan karakter yang diajarkan adalah kegiatan layan diri (mencuci tmpat makan sndiri, merapikan sepatu, menyapu) budaya mengantri dan belajar itsar (mendahulukan kepentingan orang lain dari diri sendiri dlm urusan dunia)

3. Formulasi kurikulum
sebagian besar sekolah islam terpadu menginduk ke Depdikbud (SD- SMA/SMK) meski ada sebagian kecil yang ke Depag (MI - MA), karena itulah SIT memadukan kurikulum nasional dan internalnya sehingga menjadi jawaban bagi para orang tua yang ingin putra/i nya paripurna dalam hal kelimuan atau istilahnya cerdas cendekia, siswa tdk bosan karena pembelajaran ko-kurikuler dikemas sedemikan rupa, bahkan Penugasan Terstruktur (PR) tidak ditekankan utk diberikan , sehingga waktu dirumah mnjdi tmpat utk anak-ortu bercengkerama. Muatan internal yang ada biasanya yakni Pelajaran Agama Islam yg disekolah umum hanya 2 jam, SIT 4 jam, Kegiatan Tahfidzul Quran 4 jam Kegiatan Mentoring , sehingga inilah jawaban utk mendikbud akan kenakalan remaja dan perilaku asusila, seorang anak yang senantiasa menghafal quran sulit rasanya berbuat amoral ,ditambah aktivitas mentoring Al-Quran senantiasa dalam hati dan pikiranya

4. Inovasi Pembelajaran
Anak-anak umumnya merasa jenuh dengan metode yang sama dan berturut, mungkin inilah yang dialami para orang tua dulu ketika sekolah di SDN-SMAN, rasanya waktu 5 jam (07.00-12.00) sangat lama, tak aneh ketika guru tdk hadir atau bel bunyi trdengar mnjadi bahagia yang luar biasa. Sekolah haruslah menjadi laboratorium, sehingga setiap sudutnya merupakan tmpat utk belajar, itulah mengapa kelas bukan satu2nya tmpat utk belajar. siswa dapat belajar dibawah pohon, di masjid, di kantin, bahkan terjun ke masyarakat. Kegiatan Pembelajaran pun dapat dikemas secara tematik seperti market day, english day, kegiatan jumat bersih, dan kegiatan2 ditambah ekstra kurikuler yang menarik inilah yang membuat siswa SIT merasa betah dan berlama2 disekolah.
proses pendidikan yang menjadikan siswa berkarakter atau pendidikan berbasis akhlaq mulia bukan hanya tanggung jawab sekolah semata, Pendidikan karaker sejatinya dimulai dari Keluarga sebagai sebuah organisasi dimana ayah sekaligus kepala sekolah juga ikut berperan mensukseskan
 

© Copyright JSITKOTABEKASI 2015 | Design by SOSMED JSIT | Published by Borneo Templates | Powered by GAMAIS Creator.